Assalamualaikum Wr. Wb apa kabar semuanya? Semoga kita dalam keadaan sehat selalu. Saya Muhammad Eksa Mitra Zaharqi ingin memberikan sedikit informasi tentang virus Corona yukk simakk
Virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit karena infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona bisa menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan, pneumonia akut, sampai kematian.
Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini bisa menyerang siapa saja.
Gejala Virus Corona
Gejala awal infeksi virus Corona atau COVID-19 bisa berupa Gejala Flu, seperti demam, pilek, batuk kering, sakit tenggorokan dan sakit kepala. Namun, secara umum ada 3 gejala umum yang bisa menandakan seseorang terinfeksi virus Corona, yaitu:
•Demam (suhu tubuh diatas 38°C)
• Batuk
• Sesak nafas
Menurut penelitian, gejala COVID-19 muncul dalam waktu 2 hari sampai 2 minggu setelah terpapar virus Corona.
Dampak Virus Corona Bagi Lingkungan Sosial, Ekonomi Hingga Alam
Lingkungan Alam
Penerapan physical distancing yang mengharuskan seseorang berdiam diri di rumah ternyata banyak berpengaruh terhadap kondisi alam. Aktivitas ekonomi dan transportasi yang dibatasi juga juga turut berdampak pada lingkungan. Kegiatan tersebut telah menyebabkan penurunan emisi karbon secara tiba-tiba.
Dibandingkan dengan tahun lalu, tingkat polusi di New York telah berkurang hampir 50% karena langkah-langkah yang dilakukan untuk menekan penyebaran virus. Di China, emisi turun 25% pada awal tahun karena orang diperintahkan untuk tinggal di rumah dan banyak pabrik yang tutup. Penggunaan batu bara di negara ini juga turun 40% pada enam pembangkit listrik terbesar China sejak kuartal terakhir di 2019.
Bahkan menurut Kementerian Ekologi dan Lingkungan China, kualitas udara di negaranya telah naik sebesar 11,4% dibandingkan dengan waktu yang sama di tahun lalu. Di Eropa, gambar satelit menunjukkan emisi nitrogen dioksida (NO2) memudar di Italia utara. Hal ini juga terjadi di Spanyol dan Inggris.
Penuruan gas emisi karbon ini adalah turut dipengaruhi oleh menurunnya laju transportasi. Sebagaimana disampaikan Kimberly Nicholas, seorang peneliti ilmu keberlanjutan di Lund University di Swedia.
Ia mengatakan, langkah untuk menekan penyebaran virus seperti physical distancing dan memotong perjalanan yang tidak perlu telah menurunkan kontribusi gas emisi di dunia. Di mana transportasi telah berkontribusi sebesar 72% pada emisi gas rumah kaca.
Lingkungan Sosial
Pandemi global COVID-19 juga telah mengubah lingkungan sosial masyarakat. Adanya wabah ini membuat semua elemen bekerja sama mengatasi virus corona. Di Indonesia sendiri telah ada bantuan atau donasi yang banyak digalakkan mulai dari kalangan selebriti, pengusaha, hingga masyarakat umum.
Dukungan dan gerakan physical distancing juga turut mengubah kebiasaan hidup masyarakat. Dengan menjaga jarak antar individu, kita dibentuk dengan kebiasaan untuk lebih menjaga kebersihan dan kesehatan diri sendiri serta orang lain. Wabah ini juga telah mengubah pola pikir masyarakat untuk hidup sehat.
Lingkungan Ekonomi
International Monetary Fund (IMF) menyatakan ekonomi dan keuangan global saat ini tengah mengalami krisis akibat pandemi virus corona. Hal tersebut dikarenakan pendorong utama pergerakan perekonomian yaitu konsumsi rumah tangga belakangan terus melambat.
Bukan hanya pada sektor konsumsi rumah tangga, virus corona juga turut menyerang pasar saham. Investor di berbagai dunia khawatir penyebaran virus corona akan menghancurkan pertumbuhan ekonomi dan tindakan pemerintah bahkan tidak sanggup menghentikan penuruan tersebut.
Di Indonesia sendiri Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun hingga 24 persen. Sementara kurs rupiah melemah hingga 5,41 persen dalam kurun waktu 6 bulan terakhir sebagai akibat dari keluarnya dana asing.
Menurut Asian Development Bank (ADB), sebanyak 38,5 persen surat utang pemerintah Indonesia dipegang oleh investor asing, lebih tinggi dari negara Asia lainnya. Jika terjadi aksi jual secara serentak tentunya ini beresiko tinggi terhadap krisis ekonomi.
Pusat pemodelan Matematika dan simulasi ( P2MS)
ITB telah menganalisa penyebaran Covid-19 di Indonesia dengan menggunakan model Richard's Curve korea selatan dengan persamaan sebagai berikut
Dy/Dt= r/a y ( 1-(y/k)α)
R= Laju awal pertumbuhan (orang / hari)
K = asumsi batas penderita
A= efek asimtotik
•Sekian dari saya. Saya Muhammad Eksa Mitra Zaharqi•
~Kurang lebihnya mohon maaf , Wassalamualaikum Wr.Wb~
Sampai jumpa!!! 👋